Jumat, 17 Juni 2011

dianhusadanurul isanaini askep psotis

APORAN PENDAHULUAN
PTOSIS
1.1 Definisi
Ptosis adalah kondisi kelopak mata yang tidak dapat membuka dengan optimal seperti mata normal ketika memandang lurus ke depan (Drooping eye lid), atau dengan kata lain ptosis adalah posisi dimana kelopak mata jauh lebih rendah dari posisi normal.
Etiologi
FAKTOR PREDISPOSISI
1. Ptosis yang didapatkan (aquired); pada umumnya disebabkan oleh:
a. Faktor mekanik
Akibat berat yang abnormal dari palpebra dapat menyulitkan otot levator palpebra mengangkat palpebra. Hal ini dapat disebabkan oleh inflamasi akut atau kronik berupa edema, tumor atau materi lemak yang keras, misalnya xanthelasma.
b. Faktor miogenik
Ptosis pada satu atau kedua kelopak mata sering merupakan tanda awal myasthenia gravis dan kejadiannya diatas 95% dari kasus yang ada.
c. Faktor neurogenik (paralitik)
Terdapat intervensi pada jalur bagian saraf cranial III yang mempersarafi otot levator pada tingkat manapun dari inti okulomotor ke myoneural junction. Ptosis didapat (acquired) biasanya terjadi unilateral.
c. Faktor trauma
Trauma tumpul maupun tajam pada aponeurosis levator maupun otot levator sendiri juga menyebabkan ptosis. Pada pemeriksaan histologik, efek terjadi karena adanya kombinasi faktor miogenik, aponeurotik dan sikatriks. Perbaikan terkadang terjadi dalam 6 bulan atau lebih, jika tidak ada perbaikan maka tindakan pembedahan dapat menjadi alternatif.
2. Ptosis kongenital; akibat kegagalan perkembangan muskulus levator palpebra. Dapat terjadi sendiri maupun bersama dengan kelainan otot rektus superior (paling sering) atau kelumpuhan otot mata eksternal menyeluruh (jarang). Hal ini bersifat herediter( Irga, 2010 ).
1.2 Tanda dan Gejala
Tanda
1. Jatuhnya / menutupnya kelopak mata atas yang tidak normal.
2. Kesulitan membuka mata secara normal
3. Peningkatan produksi air mata
4. Iritasi pada mata karena kornea terus tertekan kelopak mata
5. Pada anak akan terlihat guliran kepala ke arah belakang untuk mengangkat kelopak mata agar dapat melihat jelas.
Gejala
1. Pasien datang karena :
2. Keluhan kosmetik yang ditimbulkan
3. Gangguan penglihatan
4. Terdapat gejala berkaitan dengan penyebab dasar (missal pupil asimetris).
1.3 Penatalaksanaan
Penanganan ptosis pada umumnya adalah pembedahan. Pada anak-anak dengan ptosis tidak memerlukan pembedahan secepatnya namun perlu tetap diobservasi secara periodik untuk mencegah terjadinya ambliopia. Bila telah terjadinya ambliopia, pembedahan dapat direncanakan secepatnya. Namun jika hanya untuk memperbaiki kosmetik akibat ptosis pada anak, maka pembedahan dapat ditunda hingga anak berumur 3-4 tahun.
Pada pasien ptosis umumnya tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium. Namun untuk mengetahui adanya kelainan sistemik yang dapat mengakibatkan keadaan tersebut kiranya dapat dilakukan pemeriksaan darah. Pemeriksaan MRI dan CT-scan kepala dan mata dibutuhkan misalnya bila untuk melihat adanya massa tumor yang menyebabkan terjadinya ptosis, dan pada pasien yang ditemukan adanya kelainan neurologik lainnya misalnya pada pupil yang abnormal
1.4 Asuhan Keperawatan
merupakan cara yang sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama pasien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian, menentukan diagnosis, merencanakan tindakan yang akan dilaksanakan, melaksanakan tindakan serta mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan dengan berfokus pada pasien , berorientasi pada tujuan pada setiap tahap saling terjadi ketergantungan dan saling berhubungan . (A. Azis Alimul Hidayat, 2004) .
I. Pengkajian
Pengumpulan Data :
(1) Identitas pasien
Meliputi nama, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, tanggal pemeriksaan, alamat, suku dan bangsa yang digunakan, nomor register, diagnosa medis.
(2) Keluhan utama
Keluhan- keluhan yang paling utama yang dirasakan pasien misalnya menutupnya kelopak mata yang tidak normal, gangguan penglihatan.
(3) Riwayat penyakit sekarang
Bagaimana keadaan dan keluhan klien saat timbulnya masalah, riwayat trauma, miastenia gravis, penyebab, gejala ( tiba – tiba atau perlahan ), lokasi.
(4) Riwayat penyakit dahulu
Yang perlu dikaji pasien pernah menderita penyakit sebelumnya dan penyakit yang pernah diderita pasien misalnya trauma mata dan miastenia gravis.
(5) Riwayat penyakit keluarga
Dalam pengkajian ini meliputi riwayat penyakit yang pernah diderita keluarga dan pada sistem lain yang mempengaruhinya.
(6) Riwayat psikososial
Meliputi psikologis pasien yang berhubungan dengan reaksi emosional, citra tubuh serta dampaknya terhadap kehidupanya sosial pasien
(7) Riwayat pola sehari – hari
a. Pola Nutrisi
Menguraikan tentang Jumlah kalori dan jumlah cairan sebelum dan selama sakit
b. Pola Eliminasi
Menguraikan tentang frekuensi miksi dan defekasi setiap hari dan keluhan atau masalah yang terjadi.
c. Pola Aktifitas
Menguraikan tentang aktivitas yang dilakukan sehari-hari (berat- ringannya aktivitas) dan macam-macam aktivitasnya.
d. Pola Istirahat
Menguraikan tentang berapa lama pasien beristirahat dalam sehari yang dibagi menjadi istirahat di siang hari dan di malam hari.
Pemeriksaan Fisik :
Pemeriksaan pada penderita ptosis untuk mendeteksi masalah fisik yang dapat mempengaruhi kesehatannya :
II. Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan fisik awal pada pasien ptosis dimulai dengan empat ukuran klinik :
• Inspeksi: kita dapat melihat sikap,bentuk,ukuran dan ada tidaknya gerakan yang tidak dapat dikendalikan dari otot tersebut
• Palpasi: palpasi dilakukan untuk menentukan konsistensi serta adanya nyeri takan dan untuk menilai kekuatan otot tonus
• Gerakan pasif: gerakan pasif dilakukan dengan cara menyuruh pasien untuk mengistirahatkankan ototnya dan pada saat yang bersamaan kita mengerakkan otot pasien. Pada pasien normal, maka kita akan mendapatkan tahanan otot yang berarti pada saat kita menggerakkan otot tersebut.
Gerakan aktif: gerakan aktif nin dilakukan dengan dua cara,pertama; pasien disuruh untuk menggerakan ototnya kemudian kita menahan gerakannya, kedua; pasien suruh mengerakkan ototnya dan suruh dia untuk menahan gerakannya sendiri
Kordinasi gerakan: tindakan ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kerja sama yang baik atar otot.
1. Fissura interpalpebra vertical
Jarak antara margo palpebra superior dan inferior pada posisi penglihatan primer ( normal 15 – 18mm ). Ptosis < 15 mm
2. Margin reflek distance (MRD)
Penderita disuruh melihat pada posisi primer, kemudian di ukur jarak antara margo palpebra superior dan reflek cahaya, normal 4 mm.
3. Fungsi levator
Penderita diminta melihat ke bawah maksimal, pemeriksa memegang penggaris dan menempatkan pada titik nol pada margo palpebra superior, juga pemeriksa menekan otot frontal agar otot frontal tidak ikut mengangkat kelopak mata, lalu penderita disuruh melihat ke atas maksimal dan dilihat margo palpebra superior ada pada titik berapa. Aksi elevator normal 14 – 16 mm.ptosis dibawah angka normal.
III. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan beratnya palpebra yang abnormal
2. Gangguan akomodasi berhubungan dengan penurunan kemampuan muskulus levator
3. Gangguan citra diri berhubungan dengan penyakitnya
4. Proses iritasi berhubungan dengan penekanan kelopak mata terhadap kornea
IV. Intervensi keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan beratnya palpebra yang abnormal
a. Observasi beratnya palpebra yang abnormal
R/: mengetahui penyebab palpebra menjadi abnormal
b. Kaji tingkat skala nyeri klien
R/: pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun
deskripsi
c. Terangkan nyeri yang di derita klien dan penyebabnya
R/: meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri
d. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
R/: adaptasi terhadap nyeri merupakan teknik yang dapat menurunkan nyeri
e. Kolaborasi pemberian analgesik
R/: mengurangi terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgesik oral maupun sistemik
2. Gangguan akomodasi berhubungan dengan penurunan kemampuan muskulus levator
a. Observasi lapang pandang (penglihatan) klien
R/: mengetahui sejauh mana penglihatan klien
a. Anjurkan klien untuk tes tajam penglihatan, tes kelainan refraksi
R/: untuk mengetahui ketajaman penglihatan dan ada tidaknya kelainan refraksi pada klien
c. Anjurkan klien menunjukkan foto lama dari wajah dan mata
pasien
R/: melihat perubahan perbandingan pada mata
V. Implementasi
Setelah rencana keperawatan tersususun, selanjutnya diterapkan tindakan yang nyata untuk mencapai hasil yang diharapkan berupa berkurangnya atau hilangnya masalah pasien. Pada tahap implementasi ini terdiri atas beberapa kegiatan yaitu validasi rencana keperawatan, menuliskan atau mendokumentasikan rencana keperawatan, serta melanjutkan pengumpulan data.
VI. Evaluasi
Adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien.Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua yaitu evalusi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon pasien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentuka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar